Menuju Pohuwato Bebas Sampah Plastik

POHUWATO, COMMIT –  Jumlah sampah yang dihasilkan oleh orang setiap hari diestimasi mencapai 0,8 kg. Lebih dari 20.000 botol plastik terjual per detik. Di seluruh dunia, di tahun 2016 terhitung 480 miliar botol plastik terjual atau 1 juta botol per menit.  Botol plastik telah menjadi kontributor pencemaran lingkungan.

Marahalim Siagian dari Organisasi Burung Indonesia menyebut bahwa pengunaan plastik telah meningkat sebesar 20 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Saat ini, lanjut Marahalim, baru 5 persen yang dari sampah plastik yang didaur ulang secara efektif.

“Permasalahan sampah terutama plastik memang menjadi masalah global dan melibatkan semua pihak, tinggal bagaimna kita mengubah masalah menjadi peluang, limbah menjadi uang,” sebutnya.

Berdasarkan temuan Burung Indonesia, harga plastik saat ini 2.500 per kg dan bisa dilakukan sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang, mengumpulkan sampah plastik sebanyak 20 kg mungkin tidak sulit karena saat ini banyak plastik yang tercecer, di jalan, pekarangan, sekolah, kantor atau pas ada perayaan pesta.

Relevan dengan itu, Bupati Pohuwato, Syarif Mbuinga menegaskan bahwa bahwa persoalan limbah sampah plastik merupakan persoalan serius.

“Tidak hanya ditingkat global tapi juga dialami oleh Kabupaten Pohuwato,” ucapnya. Menurutnya, persoalan sampah plastik tidak kalah pentingnya dengan persoalan perubahan iklim global.

Bupati menyarankan agar masyarakat lebih memperhatikan lagi kebersihan lingkungan di sekitar mereka terlebih lagi kepada ibu-ibu petugas kebersihan di Kabupaten Pohuwato, terkhusus di Kota Marisa.

Bupati menyampaikan hal tersebut saat menyaksikan langsung uji coba proses daur ulang plastik serta hasil dari pada daur ulang tersebut yang di sebut dengan biji plastik.

“Mengumpulkan plastik bisa juga dilakukan dengan cara membuat bank sampah plastik. Ibu-ibu bisa membawa plastik ke bank sampah plastik, di sana ditimbang kemudian bisa diganti dengan uang atau sembako,” ungkap Bahari Gobel Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pohuwato.

Tentang Burung Indonesia

Burung Indonesa adalah mitra Pemda Pohuwato yang selama ini amat peduli dengan permasalahan dan solusi untuk limbah plastik karena memang berdampak langsung kepada lingkungan dan kehidupan satwa seperti ikan dan burung laut.

Tidak sedikit sampah plastik di laut dikonsumsi oleh hewan-hewan tersebut karena baik bau maupun visual dari sampah tersebut hampir mirip dengan makanan hal ini disebapkan oleh tumbuhnya mikroba yang biasa disebut sebagai ‘Plastisphere’ yang mengubah bau dan menutupi sampah plastik tersebut.

“Burung laut merupakan jenis predator yang memakan apa saja yang terlihat oleh mereka hal ini membuat mereka tumbuh dan berkembang pesat akan tetapi dengan adanya sampah plastik mereka salah mengira plastik tersebut sebagai makanan,” papar Amsurya Warman, Program Manager Burung Indonesia.

“Induk burung memberikan sampah plastik kepada anaknya hal ini mengakibatkan banyaknya burung laut yang mati karena kekurangan nutrisi,” tambahnya.

Jadi wajar ketika Pemkab Pohuwato dan Burung Indonesia mengangkat tema “Pohuwato Bebas Sampah Plastik” dengan menghimbau  penggunaan tumbler (botol minum) sebagai alternatif yang dapat menghemat plastik dibandingkan dengan menggunakan air minum kemasan dalam setiap kesempatan maupun acara.

Tak hanya itu, Burung Indonesia juga mengkampanyekan penggunakan “tote bag” sebagai pengganti kantong plastik.

Salah satu bagian dari komitmen tersebut dibuktikan dengan dilaksanakannya sosialisasi dan penyerahan tumbler dan totebag kepada Bupati Pohuwato.

Kegiatan ini bertempat di UPST Kota Madani Desa Teratai, Burung Indonesia yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Pohuwato mengadakan launching pengolahan daur ulang limbah plastik oleh Bupati yang dirangkaikan dengan silaturahmi sekaligus pembinaan petugas kebersihan dalam rangka menyongsong Adipura 2019.

Bupati ikut serta menjadi bagian dari pencanangan daur ulang limbah plastik sebagai bentuk upaya Pemerintah Kabupaten Pohuwato dalam mengatasi masalah limbah plastik.

Terkait itu, Kepala Bappelitbang Pohuwato, Irfan Saleh menyatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir, Burung Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Pohuwato telah aktif menerapkan budaya hemat plastik untuk mencapai tujuan yaitu Pohuwato bebas sampah plastik.

Bukan hanya dengan Burung Indonesia tetapi seluruh stakeholder untuk ikut serta berkolaborasi dengan Pemda Pohuwato, termasuk perguruan tinggi, LSM setempat, swasta dan kelompok-kelompok masyarakat di Pohuwato.

“Kita akan terus menerus mendorong kolaborasi seperti ini karena inilah kunci pembangunan berkelanjutan, termasuk perang terhadap sampah plastik ini,” kunci Irfan saat dihubungi PerspektifMakassar.id terkait program yang dikerjasamakan antara Pemda Pohuwato dan Burung Indonesia. (*)