Home Pelatihan Catatan dari FGD dan pelatihan daring pengelolaan sampah di Desa Sorowako

Catatan dari FGD dan pelatihan daring pengelolaan sampah di Desa Sorowako

9
0
SHARE
Suasana di lokasi pelatihan daring terkait tata kelola sampah di Desa Sorowakp (dok: istimewa)

COMMIT –  PT Vale Indonesia Tbk memandang bahwa salah satu kunci keberlanjutan program pembangunan daerah termasuk di kawasan tambang adalahnya berjalannya sinergi para pemangku kepentingan, baik pada dimensi sosial, ekonomi maupun lingkungan.

“PT. Vale yang bergerak pada industri dan bersentuhan langsung dengan pemanfaatan sumberdaya alam menjadikan kinerja lingkungan sebagai salah satu fokus penting bagi perusahaan dalam menjalankan bisnis dan operasionalnya, termasuk dalam menangani isu sampah di ini,” kata Aswaddin Kamto, dari departemen external relation PT Vale saat dihubungi adamin COMMIT terkait kegiatan FGD dan pelatihan persampahan ini, 6 September 2020.

Aswaddin menyebut bahwa sejauh ini, PT. Vale ikut aktif ambil bagian dalam penilaian PROPER Hijau adalah untuk secara melakukan perbaikan kinerja lingkungan secara terus menerus, dalam menjalankan bisnisnya.

Menurutnya, PROPER hijau adalah evaluasi kinerja lingkungan perusahaan yang strategis dan dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER). Program PROPER menjadi salah satu program unggulan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dikembangkan sejak 2002.

Direktur Bank Sampah Induk yang juga Kasi Pengelolaan Limbah B3 DLH Kabupaten Luwu Timur Abshar Abdurrazak (dok: istimewa)

COMMIT Foundation yang selama ini bermitra dengan PT Vale Indonesia Tbk terutama dalam program PMDM dan Pengembangan Kawasan dan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM) menggelar FGD bertema “Selamatkan Sorowako dari Sampah” yang dikaitkan dengan upaya mengejawantahkan misi lingkungan tersebut.

“Kontribusi kami atas dukungan PT Vale adalah mengemas dalam serial FGD dan training persampahan, untuk menjadi wadah berbagi update pengetahuan, keterampilan, pengalaman oleh semua pihak dalam upaya mengatasi isu persampahan di Sorowako,’ Jumardi Lanta, program manager COMMIT Foundation.

“Harapan kita, pada skala yang lebih kecil, kita ingin mulai dari mengubah minset sampah sebagai kotoran menjadi sampah sebagai sumberdaya,” imbuhnya.

FGD dan pelatihan persampahan ini menurut Jumardi, merupakan langkah keberlanjutan dari upaya-upaya yang dilakukan sebelumnya oleh semua pihak dalam upaya peningkatan kesejaheraan masyarakat sekaligus kualitas lingkungan secara berkelanjutan.

“Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, minimal pada Desa Sorowako tentang urgensi pengelolaan sampah  terhadap peningkatan ekonomi dan kualitas lingkungan. Meningkatnya pemahaman tentang pentingnya sampah untuk dikelola,” katanya.

Sepuluh poin

Berdasarkan proses pemaparan dan diskusi pada dua seri kegiatan tersebut yang mengambil tema FGD: Selamatkan Sorowako dari Sampah lalu Seri 2 Training bagi Komunias Pemulung dengan Tema “Pemulung Naik Kelas” maka tersaji beberapa fakta atau informasi yang menarik untuk jadi cermatan bersama.

Pertama, keterkaitan antara bank sampah di desa dan unit di atasnya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Sorowako, Jihadin Peruge. Dia mengatakan bahwa FGD dan pelatihan ini sangat penting terutama dalam pengelolaan dan pemasaran hasil sampah dari desa.

“Kita ada kendala di bank sampah, pertama hubngan antara bank sampah desa dan kabupaten. Satu mobil yang kami biasa sewa untuk angkut sampah lebh mahal biaya sewanya kalau dibawa ke kabupaten,”katanya.

“Kami pernah mengajak pihak perusahaan bagaimana memanfaatkan sampah supaya nilai jual sampah lebih tinggi, saat dikirim ke kabupaten,” tambahnya.

Hal kedua yang disampaikannya adalah bahwa di kecamatan juga memiliki bank sampah. “Akhirnya kami lakukan transaksi langsung dengan kecamatan yang kami angkat dari pengumpul. Harapan kita adalah, ada pendampingan, kami butuh pendampingan,” tuturnya.

Dia juga menyebut bahwa ada potensi besar dengan adanya PTS yang dikelola bersama dengan PT Vale. Menurutnya, di sekitar lokasi warga bisa menanam bunga, “Mereka memanfaatkan untuk tanam sayur organik, tapi itu tadi, terkendala pendampingan, pemahaman mereka perlu ditingkatkan,” imbuhnya.

“Akhirnya mereka melakukan hanya seperti hobby biasa saja, Mereka menanam sayur, sampah plastik dikumpul saja, yang sebenarnya kalau PT Vale lihat ini, bisa ada alat pres platik dan pencacah, ini sangat membantu,” katanya.

Yang ketiga adalah terkait apa yang disampaikan Marlon Kamagi, dari ICELLS Manado. “Bagamana mengembangkan simber daya ini jadi produk dan pasarnya terbuka,” katanya terkait potensi serbuk kayu di Lutim yang dibahas selama training.

Kepala Desa Sorowako Jihadin Peruge saat membawakan materi di FGD (dok: istimewa)

“Ada banyak teknologi, skala industri, dan home industry, kami, di bengkel bank sampah ICELLS memproduksi asap cair dan arang aktif. Serbuk kayu bisa masukkan ke dalam alat dan jadi briket dan asap yang ditangkap jadi cair, ada juga tar cair, di-suling, bisa sampai ke restoran,” paparnya tentang pemanfaatan dari pengolahan sampah.

Menurutnya, sangat penting untuk punya ‘business canvas’. “Saya melihat yang disampaikan terkait pengelolaan sampah seharusnya yang ada pada level pemulung tadi. Jika sudah terpilah dari RT,” sebutnya.

Keempat, terkait sampah rumah tangga ada banyak alternatif solusi seperti lubang biopori, composter hingga pengembangan ecoenzim.

“Fungsinya banyak sekali bisa penghilang jerawat, penyembuhan luka, ini enzim khsus, bahkan untuk pembersih kamar mandi dan relevan dengan kelompok ibu-ibu, dengan perempuan, dari dapur. Jadi sudah diproses sebelum ke TPA,” ujarnya terkait pendayagunaan sampah rumah tangga.

Kelima, dia juga menyinggung beban biaya jika dibawa ke Pulau Jawa sehingga perlu kreasi lokal dan bisa saja berdimensi luas tanpa harus mengirim sampahnya.

Dia menyebut bahwa proses yang difasilitasi selama ini telah terhubung ke luar negeri dimana ada pihak yang memesan produk olahan sampah plastik menjadi gantungan kunci model penyu.

“Ini yang ingin kami sampaikan bagaimana bank sampah di Sorowako, dengan potensi yang ada bisa mengembangkan souvernir berkualitas dari plastik, botol-botol, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Keenam, hal lain yang disampaikan adalah potensi pemanfataan biopori, tandon berisi biogas, hingga pengembangan maggot seperti yang dijalankan di Tangerang.

Poin ketujuh adalah perlunya perbaikan sistem. Direktur Bank Sampah Induk yang juga Kasi Pengelolaan Limbah B3 DLH Kabupaten Luwu Timur Abshar Abdurrazak menyatakan bahwa kapasitas Pemerintah masih terkendal di sistem.

“Sistem kita memang tidak bisa ke kabupaten, jadi berhubungan dengan pengepul kecamatan,” katanya. Dia juga menyebut bahwa bisnis harusnya tidak saling mematikan. “Jangan sampai fokus ke ekonomi saja, tapi sisi sosial dan lingkungan juga yang utama,” katanya.

Dia mengapresiasi inisiatif Kepala Desa Sorowako. “Yang Pak Desa lakukan sudah tepat, mungkin dari dinas lingkungan hidup, belum mampu support semuanya. Ada harapan kami, mungkin PT Vale dll bisa masuk untuk efisiensi, perlu pengepresan,” imbuhnya.

Kedelapan adalah perlunya dukungan penganggaran untuk pengepresan untuk proses transportasi, perlunya sinergi antara TPS, pupuk kandang, serta peluang asap cair dan briket, hingga bahan untuk usaha jamur. “Kita bisa masuk ke situ,” imbuhnya.

Bahan paparan Kades Sorowako, Jihadin Peruge (dok: istimewa)

Poin sembilan, pengembangan kapasitas pelaku. Makmur Payabo, aktivis pendamping pemulung dan anak sekaligus Direktur YAPTAU Makassar mengingatkan tentang perlu kreativitas dalam melihat potensi sampah ini.

“Di Makassar, ada beberapa sawmill menjadi momok bagi warga karena serbuknya mau diapakan. Hasil limbah itu sebenarnya bisa dipakai utuk memelihara cacing susu untuk keperluan pemancing ikan,”katanya.

Dia setuju bahwa memang ada beban transportasi sehingga perlu tindakan awal seperti pengepresan atau pencacahan. “Nantinya pencacah ini adalah mungkin harus dilatih betul, terkait jenis plastik. Karena kalau tercampur jenis lain tidak ada harganya. ini supaya tidak rugi,” ucapnya.

Kesepuluh adalah keterpaduan antar lini TPS. “Bagaimana ketika ada sudah ada TPSP sudah ada terpadu, karenanya seharusnya disiapkan dari sekarang, jangan sampai kayak di Makassar, volume, 16 ton mau diapakan ini? Harus diantisipasi. Pak Desa sudah mengantisipasi, semuanya nanti memikirkan seperti apa pergerakan kita yang difasilitasi PT Vale,” tambahnya.

Moderator FGD dan pelatihan, Naufal, menambahkan tentang pengalaman di PT Berdaya Hijua, Tomoni, dimana ada produksi serbuk kayu mencapai 17 kubik perhari. “Setahu saya, 90 persen bisnis gagal di tahun pertama karena tidak berjalannya sistem, produk tidak terserap pasar,” kata Naufal.

Dukungan PT Vale

Iskandar, yang mewakili departemen external relation mengapreasiasi proses pertukaran pengalaman ini dan menyebut bahwa memang seharusnya sampah harus ditangani dengan baik dan kolaboratif.

“Kita punya beberapa program dalam rangka penanganan sampah, baik melalui blok grant, PKPM, kemitraan strategis, dan bersama teman-teman desa dan kelompok pengiat lingkungan. Nah, bagaimana perencanaan strategis ke depan dapat disosialisasikan,” katanya.

“Jadi isu lingkungan PKPM, adalah bagimana pengelolaan limbah gergaji menjadi sumber ekonomi dan menjadi penggerak,” katanya.

Dia menyebut bahwa sampah punya nilai ekonomis, saat diolah jadi kompos. sampah plastik, kerajinan tangan, hingga pembuatan batako dari sampah, menjadi gas metanol, bisa jadi sumber energi terbarukan.

“Ini akan coba kita dorong untuk masuk perencanaan bahwa untuk tahap awal membantu beberapa teman penggiat di masing-masing desa, melalui pengadaan teknologi mesin pengepres dan pencacah, tinggal nanti bagiamana ini didorong berbasis prencanaan desa,” ujarnya.

“Harapan kita, semua kegiatan ini menjadi input peting bagi perusahaan, kepada wilayah areal operasional dan khsusunya masyarakat Luwu Timur dan bumi kita yang kita cintai,” harapnya.

Iskandar juga mengungkapkan bagaimana PT Vale di tahun 2016 memfasilitasi pemanfaatan limbah tenak menjadi biogas untuk sumber energi kebutuhan dapur dan bisa dikunjungi lokasinya.

Relevan dengan itu, Yogi, dari Aliksa memaparkan pendampingan teknis unit kerjanya pada pertanian sehat ramah lingkungan dan berkeanjutan.

“Kuta mengembangkan maggot, di Matompi dan Nuha. Apa proses pengolahan limbah sampah organik yang digunakan untuk pakan maggot dan ini bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan dan pakan unggas,” katanya. Menurutnya ini menarik di tengah harga-harga pakan ikan yang kian mahal.

“Pada skala rumah tangga, ada pembinaan kelompok petani dan anggota PKK, mengelola sampah organik dengan pengomposan. Skala RT tidak terlal besar hanya saja sampah ini dan kompos ini kita bisa ajak ibu-ibu untuk menanam atau budidaya tanaman obat.

Iskandar, senior cooordinator pada departemen external relation PT Vale (dok: istimewa)

“Sebagai sayuran sehat, kita memberikan pembinaan cara organik. Dulu pupuk sintetis, sekarang mereka pakai organik di sawahnya masing-masing seperti di Wasuponda, Parumpanai dan Towuti,” jelasnya.

Khusus untuk maggot menurut Yogi, pihaknya memesan telur dari sesama pengembang Balck Soldiers Flies BSF.

“Untuk saat ini sudah ada di 3 lokasi binaan pengembangan maggot lalat BSF yaitu di Dongi, Sorowako dan Matompi Towuti. Saat ini indukan sudah mulai banyak,” tambah Yogi.

Catatan akhir

Berdasarkan dua seri kegiatan ini jelas sekali bahwa di balik ancaman sampah di Desa Soworako atau secara umum di Luwu Timur maka ada harapan untuk meretas peluang ekonomi dan keseimbangan lingkungan. Terbuka harapan agar para pemulung atau mereka yang sudah bersinggungan dengan sampah sedari rumah tangga ini bisa ‘naik kelas’ status ekonominya.

“Saya pikir, kolaborasi kita tidak berhenti di sini, perlu melibakan diri sesuai kapasita, sampah sebagai tantangan bersama, tujuan kita menciptakan green yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau swasta tapi tanggung jawab bersama,” lanjut Iskandar.  

“Baik PT Vale, maupun kita semua, agar bisa betul-betul meningkatkan kesadaran masyarakat secara kolektif untuk tata kelola, manajemen, bagaimana pasar diciptakan, sehingga apa yang dikerjakan bisa meningkatkan nilai ekonominya,” tutup Iskandar dari PT Vale Indonesia Tbk. (KA)

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY