Home Resensi Buku Dari Peluncuran Buku Menyingkap Realitas Lapangan di Jakarta

Dari Peluncuran Buku Menyingkap Realitas Lapangan di Jakarta

481
0
SHARE
Suasana kegiatan

Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) merupakan organisasi berbasis di Lombok Timur yang meretas inisiatif kelahiran buku dalam bahasa Indonesia seperti tersebut di atas. YMP menggandeng Yayasan COMMIT Indonesia yang berpusat di Kota Makassar untuk menyiapkan terbitnya buku ini.

Untuk mempromosikan konten dan spirit yang dikandung di buku ini, YMP bersama SPEAK Indonesia, sebuah organisasi yang getol dalam penguatan kapasitas para pihak dalam pembangunan menyiapkan gala peluncuran buku itu pada Kamis, 17 Maret 2016, pukul 16.30 – 20.00 WIB di Ruang Meeting Jetro, Gedung Summitmas 1 Lt.6, Jl. Jenderal Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta.

Kepada COMMIT, YMP dan SPEAK membagikan laporan pelaksanaan kegiatan dimaksud

***

Tentang Substansi Buku Ini

Dunia pembangunan masyarakat atau pemberdayaan masyarakat adalah dunia yang tidak lagi baru di hampir seluruh Negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Sejarah mencatat bahwa kita telah melahirkan banyak ahli, menyiapkan jutaan profesional pendamping, ribuan konsultan berikut program inovatifnya, juga tak terhitung jumlah kelompok masyarakat dan tak terbayang jumlah dana yang telah disalurkan. Berbagai macam variasi metodologi dan pendekatan hilir mudik mengisi berbagai kerangka proyek. Ribuan pelatihan-pelatihan kefasilitatoran juga tak ketinggalan dilaksanakan dalam berbagai tingkatan.

????????????????????????????????????
Wada dan bukunya

Buku ini, mengajak kita untuk melihat ulang strategi, teknik dan metode fasilitasi kita dan memperkenalkan sebuah Meta-Fasilitasi, sebuah proses fasilitasi menuju Kesadaran-diri (self-realisation) yang merupakan ciri dari meta-fasilitasi. Dengan menawarkan banyak contoh, Nobuaki Wada dan Toyokazu Nakata, penulis buku ini, menunjukkan perlunya mengembangkan kapasitas untuk mengamati dan memahami konteks, sehingga fasilitator bisa menempatkan diri mereka pada posisi teman bicara, melalui sebuah pertanyaan fakta sederhana, kesediaan untuk menceritakan pengalaman hidup mereka, dan memberdayakan. Inilah yang disebut proses pemberdayaan, yang merupakan tujuan Meta-Fasilitasi.

Buku ini ditulis sebagai refleksi pengalaman atas keterlibatan kedua penulisnya dalam berbagai proyek bantuan pembangunan di berbagai Negara berkembang, termasuk Indonesia.

COMMIT FOUNDATION, lembaga afiliasi para fasilitator yang pernah bekerja bersama dan menerima pelatihan langsung dari kedua penulisnya, atas kerjasama dan dukungan YMP NTB, menjadi penerbit atas buku ini, dari judul asli “Reaching Out Field Reality – Meta-Facilitation for Community Development Worker”  (Mura no Mirai, 2015).

Bersamaan dengan implementasi UU No 6 Tahun 2014 yang instrumen pokoknya adalah bantuan dana, tenaga pendamping dan kelembagaan ekonomi BUMDES, juga berbagai rupa proyek dan program pemberdayaan masyarakat, buku ini semakin menemukan relevansi di Indonesia. Karena itu YMP bekerjasama dengan SPEAK Indonesia dan Jejaring AMPL telah menyelenggarakan Peluncuran Buku Meta-Fasilitasi yang dihadiri oleh para penulis buku. Peluncuran buku ini dikemas menggunakan metode interaktif, tanya jawab, sharing pengalaman dan juga musik.

Wada dan La Tofi (foto: Kamaruddin Azis)
Wada dan La Tofi (foto: Kamaruddin Azis)

Apa sasaran kegiatan ini?

Peluncuran Buku Meta-Fasilitasi ini dapat memberikan gambaran dan wawasan baru tentang teknik fasilitasi melalui sharing pengalaman para penulis dan testimoni. Sasarannya kepada pelaku, penggerak community development serta pemerhati perkembangan pembangunan masyarakat.

Tujuanya? Memperkenalkan Buku Meta-Fasilitasi kepada pelaku Pengembangan Masyarakat atau bidang terkait. Memahami konsep dasar Meta–Fasilitasi yang dapat dikembangkan pada program-program pengembangan masyarakat. Mendengarkan testimoni dari berbagai pandangan pihak ketiga terhadap isi buku

Harapannya adalah para peserta mengetahui isi buku ini secara umum  serta memahami konsep dasar Meta-Fasilitasi dan bagaimana aplikasinya pada program-program pengembangan masyarakat

Siapa Saja yang Hadir?

  1. Eko Wiji Purwanto, Kasubdit Air Minum dan Air Limbah, Perkim, Bappenas
  2. Oswar Mungkasa, Deputi I DKI Jakarta
  3. Saoruddin, Ketua Bappeda Wakatobi
  4. Nobuaki Wada, Mura No Mirai
  5. Foort Bustraan, IUWASH
  6. Ika Fransisca, IUWASH
  7. Agustini Raintung, YPCII
  8. Yohannes Ghewa, COMMIT
  9. Kamaruddin Azis, Sekretaris COMMIT
  10. Reini Siregar, WSP/World Bank
  11. Ira Lubis, Bappenas
  12. Dewi Septianty, Sekretariat Pokja AMPL Nasional
  13. Muftika Lutfiana, Staf Kemenkes
  14. Ika Agustina, Kalyanamitra
  15. Akhta Suhendra, PKPU
  16. Shunsaka Niwa, JICA
  17. Mami Sato, JICA
  18. Emi Sekiguchi, JICA
  19. Dinnia Joedadibrata, Simavi
  20. Endah, Bersih Nyok
  21. Joy Irman, AFSI
  22. Ellena, YMP NTB
  23. Misako Kondo, Mura no Mirai
  24. Aditya, YMP NTB
  25. Donal Simanjuntak, Kemenkes
  26. Invi Atmanegara
  27. Bagus P., Indonesia Mengalir
  28. La Tofi, LSCSR
  29. Ai Goto, Japan Foundation
  30. Fx Susetyo
  31. Sekar, IFN
  32. Mita Sirait, WASH/WVI
  33. Ariani DA, Univ. Trisakti/TL
  34. Ferry Curtis
  35. Ahmad Huseiyn, Win Development
  36. Takenobu Yamashiro, JETRO
  37. Irenius
  38. Kazuhisa Masuit, Matsui Glocal
  39. Yu Yoshida, JETRO
  40. Mayong SL
  41. Wiwit Heris, SPEAK Indonesia
  42. Iin Mendah, SPEAK Indonesia
  43. Sarah Adipayanti, SPEAK Indonesia
  44. Metha Kartika, SPEAK Indonesia
  45. Indriany, SPEAK Indonesia

DSC_0039

Metode Kegiatan

Peluncuran buku dikemas dengan cara yang santai dan menyenangkan, sharing dan diskusi pengalaman antara peserta dan penulis buku, serta testimoni dari para ahli serta Penyampaian isi buku dikemas dan disampaikan dengan musik yang mengajak para peserta untuk aktif berpartisipasi.

Jalannya Kegiatan

Acara Peluncuran Buku dimulai dengan sambutan MC kepada para tamu undangan dan pembukaan oleh Bapak Eko Wiji Purwanto, Kasubdit Air Minum dan Air Limbah, Direktorat Permukiman dan Perumahan, Bappenas. Pada sesi pembukaan, Bapak Eko Wiji membahas mengenai isi buku dan kaitannya dengan bagaimana seseorang menjadi fasilitator yang paripura. Terakhir, Bapak Eko menyampaikan harapannya agar buku ini dapat memberikan pencerahan dan juga refleksi diri bagi para fasilitator dalam perannya sebagai pendamping desa dan fasilitator masyarakat.

Pembukaan peluncuran buku dilanjutkan dengan musik dari Ferry Curtis, seorang musisi dan juga aktivis sosial dan lingkungan yang berasal dari Bandung. Sebelum memasuki sesi “Kuliah Meta-Fasilitasi” oleh penulis, MC mengundang Bapak Mayong Suryo Laksono sebagai moderator pada sesi tersebut.

Kuliah Meta-Fasilitasi & Percobaan Fact Question

Sesi sharing buku dihadiri oleh Nobuaki Wada sebagai salah satu penulis dari Buku tersebut. Toyokazu Nakata yang seharusnya bicara bersama dalam sesi ini berhalangan hadir dikarenakan sedang sakit. Sebelum sesi sharing dimulai Mayong Suryo Laksono sebagai moderator pada sesi ini membacakan susunan agenda Acara Peluncuran Buku. Sesi Kuliah Meta-Fasilitasi akan dilanjutkan dengan tanya-jawab, testimoni, dan juga kesimpulan peserta peluncuran buku yang akan dicompose ke dalam sebuah lagu.

DSC_0076

Buku “Menyingkap Realitas Lapangan Meta-Fasilitasi Bagi Pekerja Pembangunan Masyarakat” berisi tentang cara menggali fakta dan bagaimana fakta tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan suatu desa. Buku hasil kajian 2 orang ahli -Nobuaki Wada dan Toyokazu Nakata- yang berpengalaman dalam bidang pemberdayaan masyarakat menceritakan pengalaman konkrit mereka di lapangan. Berikut adalah uraian dari sesi Kuliah Meta-Fasilitas bersama Nobuaki Wada:

  • Buku ini menjelaskan cara bagaimana mengajukan pertanyaan secara tepat dan benar. Bagaimana seseorang menggali fakta sebenarnya dan memproses realitas. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 3 bahasa (Inggris, Persia, dan Bahasa Indonesia) dan dijual dalam bentuk cetak juga soft copy di Amazon serta toko-toko buku. Sekarang sedang disiapkan terjemahan dalam bahasa Nepal dan Perancis.
  • Buku ini ditulis untuk negara-negara seperti Nepal, India serta para pekerja di negara berkembang. Hampir sekitar 50% pengalaman dalam buku ini terjadi di Indonesia. Buku ini berisi bukan hanya pengalaman dari Nakata dan Wada, tetapi juga pengalaman dari teman-teman sang penulis.
  • Pada tahun 2004, Wada diminta JICA untuk memberikan pelatihan. Wada sering memberikan pelatihan bagi pemerintah dan juga pekerja NGO (Non-Government Organizations). Dalam pelatihan dan lokakarya Wada sering menguji pengetahuan para peserta untuk mengetahui perkembangan mereka.
  • Seringkali meskipun seorang fasilitator sudah bekerja tahunan di sebuah desa, pada kenyataanya mereka masih tidak mengenali desa tersebut. Hanya karena seorang fasilitator mengenal tukang jualan atau sebuah keluarga yang berada di desa tersebut, mereka berfikir telah mengetahui seluk beluk sebuah desa.
  • Fasilitator dianalogikan sebagai seorang dokter. Ibarat seseorang sakit, kemudian pergi ke dokter dan ditanyai penyakit apa yang diderita. Jika seorang pasien tahu apa penyakitnya, maka ia tidak perlu ke dokter. Daripada menanyakan sakit apa dan apa yang harus dilakukan, seharusnya seorang dokter menganalisa dengan bertanya apa yang dimakan tadi pagi. Sebagai pekerja pembangunan, kita harus menjadi seperti dokter, kita harus bertanya pertanyaan yang konkret.
  • Contoh lainnya di Timur Tengah ketika Nakata memberikan pelatihan untuk staf Kementerian Energi yang sedang memiliki permasalahan pada kelangkaan air. Pertanyaan yang tepat harus diajukan untuk para petani. Ketika petani mengatakan bahwa sumber permasalahan adalah irigasi yang tidak cukup, apakah pertanyaan selanjutnya yang harus ditanyakan? Disini Nakata kemudian bertanya; Jika Anda mengatakan kelangkaan, berapa banyak meter kubik air yang Anda butuhkan? Tentu saja para petani tidak tahu. Pertanyaan berikutnya adalah, jika Anda tidak tahu, bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda mengalami kelangkaan air? Kemudian para petani berjanji mereka akan mencari tahu penyebabnya. Pada pertemuan berikutnya, para petani menemukan bahwa orang-orang telah menggunakan air lebih dari yang seharusnya digunakan. Berdasarkan itu, petani mulai mengelola dan mengendalikan air irigasi mereka.
  • Dalam fasilitasi, pertanyaan awal dan membedakan antara fakta dan bukan itu penting. Jika pertanyaan yang dilontarkan salah, maka ketergantungan akan tercipta. Sayangnya, sebagian besar pekerja lapangan hanya melakukan pertanyaan dan menerima jawaban.
  • Hindari untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”. Penyebab masalah bukan hanya satu, namun ada juga faktor-faktor luar dan dalam. Pertanyaan mengapa cenderung membuat orang menciptakan alasan yang kebanyakan disebabkan oleh faktor luar. Ketika bertanya kepada masyarakat mengapa mereka memiliki masalah, mereka akan berlasan dan lebih banyak masalah akan timbul. Contohnya dalam hal ini mereka akan memberitahu Anda segala sesuatu, dan mereka akan mengatakan kami tidak bisa melakukan itu karena kita miskin. Namun sayangnya, orang luar tidak bertanya lebih jauh, mereka berfokus pada alasan tersebut, dan menciptakan asumsi bahwa orang-orang ini miskin.
  • Ketika berumur 24, Wada memulai pelatihan di Indonesia, orang-orang disana membuat peta dengan tag untuk rumah orang kaya, sedang dan miskin. Namun bagi Wada itu bukanlah survey, pengelompokan tersebut akan menciptakan fantasi. Maka Wada pergi ke desa yang menjadi target survei. Disana Ia mewawancarai para petani mengenai survei tersebut. Mereka beranggapan bahwa mereka miskin dengan alasan karena hanya makan bubur 1x sehari. Dari situ seringkali fasilitator menciptakan fantasi bahwa petani-petani tersebut miskin. Namun faktanya seringkali penduduk desa “bermain” dengan fasilitator karena mereka adalah tamu dan baik, sehingga mereka ingin bekerjasama. Dalam hal ini, para penduduk desa akan mengiyakan apapun yang dikatakan pada mereka.
  • Ide tentang kemiskinan patut dipertanyakan lebih jauh. Saat Wada mengadakan lokakarya di Mataram dan meminta peserta untuk membayangkan sebuah desa yang alami, mereka menciptakan anggapan bahwa permasalahan di desa tersebut adalah kemiskinan. Saat ditanya lebih jauh ‘apa itu miskin?’ Mereka mendefinisikan miskin dengan tidak punya uang atau sedikit uang. Kemudian Wada bertanya lagi ‘apakah kamu memiliki cukup uang?’ Kemudian peserta menjawab ‘tidak’. Lalu apa perbedaan antara apa yang dimiliki penduduk desa dan apa yang anda miliki?
  • Kebanyakan kasus pada pemberdayaan masyarakat, apa yang diberikan donor tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh desa. Jika dianalogikan dengan pasien yang sakit kepala dan sakit perut, jika Anda seorang dokter Anda tidak hanya memberikan obat sakit kepala. Tetapi kebanyakan donor hanya memberikan obat sakit kepala karena hanya itu yang mereka punya. Jadi mereka memberikan aspirin untuk orang yang sakit perut juga.
  • Anda harus memiliki kepercayaan diri dalam diri Anda. Jangan mendengarkan donor, tapi dengarkanlah masyarakat di desa.

DSC_0001

Diskusi dan Tanya-Jawab

Q: Apakah pendekatan ini akan memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan pendekatan yang biasa? Apakah anda pernah bisa meyakinkan donor bahwa pendekatan ini bekerja lebih baik daripada pendekatan normal? (Dinnia, Simavi)

A (Wada): Kehadiran Anda hanya sementara. Anda meminta mereka untuk memperbolehkan Anda berpartisipasi dalam lokasi mereka. Saya tidak suka partisipasi masyarakat. Saya meminta mereka untuk hadir sementara waktu untuk sesuatu yang terakhir bagi mereka. Masalah tersebut harus menjadi masalah umum, bukan hanya milik mereka tetapi Anda juga. Jadi, jika Anda memahami hal tersebut, maka Anda dapat melakukan sesuatu untuk masyarakat. Namun ada banyak teknik untuk itu. Donor memiliki standar, mereka memiliki angan-angan mereka sendiri. PKPM adalah proyek besar, tidak satu pun di JICA memahami proyek ini. Mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Mereka mulai memahami ketika penduduk desa mulai melakukan inisiatif.

Q: Apakah memiliki catatan khusus mengenai yang dikerjakan oleh comdev officer yang bukan dari donor, tapi berasal dari CSR. Adakah perbedaan apabila mereka menjalankan karena tanggungjawab perusahaan. (La Tofi, La Tofi School of CSR)

A: Maaf, Saya tidak tahu CSR. Dari pengalaman saya mereka tidak tahu bedanya. Saya memiliki sebuah program dengan perusahaan, saya pikir kita bisa mengatakan bahwa itu adalah CSR, dan saya tidak berpikir ada perbedaan. Empat tahun dengan perusahaan real estate di Jepang, mereka ingin berkontribusi kepada masyarakat setempat dengan mendukung kegiatan warga. Kami mendirikan pusat komunitas di sebuah pusat perbelanjaan. Kami hanya setuju dengan tujuan konkret, dan hal tersebut didukung. Kemudian hal tersebut menyebar ke banyak tempat.

Q:  Anda menjelaskan tentang pertanyaan “mengapa”. Berikan contoh untuk pertanyaan “bagaimana”?

A:  Anda harus membedakan antara menanyakan perasaan atau bertanya tentang fakta.

Q: Apa saran Anda bagi pendatang baru di Pemberdayaan Masyarakat?

A: Kami mencoba memberikan mereka pelatihan

DSC_0008

Testimoni

Pada sesi ini, testimoni disampaikan oleh Kamaruddin Azis dari COMMIT sebagai perwakilan Prof Darmawan Salman, Guru Besar Sosiologi Pedesaan KPS S3 Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin yang saat itu berhalangan untuk hadir. Selain itu, testimoni juga disampaikan oleh Bapak Fary Francis, Ketua Komisi V DPR RI.

Testimoni Prof. Darmawan Salman (diwakilkan oleh Bapak Kamaruddin Azis)

Kegelisahan “orang luar” untuk “mendorong kemajuan” bagi “komunitas lokal”, “orang-orang desa”, “komunitas tertinggal” atau “dinamai apapun”, telah melahirkan berbagai kuasa: kuasa birokrat, teknokrat, perencana, konsultan, fasilitator masyarakat, dan sebagainya. Mereka datang “membawa pengetahuan” untuk diaplikasikan bagi “dorongan kemajuan” tersebut, setelah itu mereka pulang – dan mendapatkan ucapan terima kasih.

Pertanyaan yang selalu muncul adalah: pengetahuan siapakah yang pantasnya diaplikasikan untuk perubahan orang lokal, orang desa, orang tertinggal tersebut? Apakah pengetahuannya orang luar berdasarkan kerangka konseptual yang dipunyainya, ataukah pengetahuan yang ditangkap oleh orang luar tentang orang dalam yang difasilitasinya, ataukah  pengetahuan orang dalam itu sendiri yang harus ditangkap oleh orang luar dengan benar?

Buku ini memberi peringatan kepada mereka yang bernama fasilitator masyarakat, untuk berhati-hati dalam menjangkau dengan benar realitas lapangan. Mengapa? Karena desa, lokalitas dan komunitas bukanlah ruang hampa, ia adalah realitas manusia yang bisa menyampaikan emosi, persepsi, ekspektasi ataupun fakta. Dengan sederhana buku ini menyarankan: perdalamlah pengetahuan tentang fakta dalam mendampingi masyarakat; ajukanlah pertanyaan dan lakukanlah observasi yang tidak terjebak pada persepsi serta tidak tergoda pada ekspektasi – apakah itu dalam membedakan masalah dengan isu, apakah itu dalam menyusun rencana aksi partisipatif, pun apakah  itu dalam menjalankan evaluasi yang reflektif.

Buku ini memperkenalkan konsep meta-fasilitasi. Sepanjang yang saya tangkap, meta fasilitasi dalam buku ini menekankan pentingnya kemenyatuan antara pengetahuan dengan kesadaran. Meta fasilitasi meniscayakan seorang fasilitator untuk mendorong dialog pengetahuan dan kesadaran diantara warga komunitas yang didampinginya, pun meta fasilitasi meniscayakan dialog pengetahuan dan kesadaran antara diri fasilitator sebagai “orang luar” dengan warga komunitas sebagai “orang dalam”.  Maka wahai para fasilitator komunitas, berselancarlah dalam kemenyatuan pengetahuan dengan kesadaran di antara warga komunitas dampinganmu.

Tentu saja isi buku ini hanyalah salah satu tawaran cara dalam memahami realitas lapangan. Perencana daerah memiliki caranya sendiri dalam menangkap realitas lapangan melalui data statistic di belakang meja. Konsultan memiliki caranya sendiri dalam menangkap realitas lapangan melalui rumus dan model sistem yang dibangunnya. Peneliti memiliki caranya sendiri dalam menangkap realitas lapangan melalui metode deduktif-induktif yang diklaimnya. Meta fasilitasi hadir menawarkan diri di tengah kekayaan cara yang telah ada tersebut.

Saat ini, dalam implementasi UU Desa-misalnya, kita menyaksikan pemerintah menempatkan pendamping desa yang cukup banyak di seluruh Indonesia. Mereka telah dibekali dengan sejumlah peraturan menteri dan petunjuk pelaksanaan. Mereka mengawal penggunaan dana yang cukup besar demi kemajuan desa. Bahwa pengetahuan yang dijadikan pendasaran dalam mendorong kemajuan itu tampaknya lebih berbasis petunjuk dari atas, maka itu juga adalah sebuah cara.

Meta fasilitasi hadir menawarkan kebenaran tentang cara menjangkau realitas lapangan. Kalau di tengah-tengah kita telah berlaku cara masing-masing dalam menjangkau realitas lapangan, maka siapa tahu di balik implemetasi cara itu masih ada isi realitas lapangan yang belum terungkap. Untuk yang tersisa itu, berikanlah kesempatan kepada meta fasilitasi dalam mengungkap.

Testimoni Bapak Fary Francis, Anggota DPR-RI dan murid Wada

Saya confirm langsung bahwa saya ingin datang (di acara launching) di tengah-tengah kesibukan saya. Jika kita peduli dengan desa, sekarang ini desa sedang dalam kondisi bahaya. Waktu saya mau mengesahkan anggaran desa, saya tanya ke Menteri Desa, apa yang berbeda/khas dari program desa ini. Menteri mengatakan kali ini berbeda pendekatannya, yaitu pendekatan masyarakat. Apa indikatornya pendekatan masyarakat? Pak Menteri agak sedikit bingung. Kami sampaikan silakan jalan, satu tahun kami akan turun untuk melakukan evaluasi.

Kalau kita baca buku ini, kalau kita tidak laksanakan, maka kita tidak tahu apa-apa tentang buku ini. Kita harus melaksanakan supaya kita dapat mengerti buku ini. Masyarakat tidak tahu tentang dana desa, jangankan ikut merencanakan atau menyusun aksi-aksi. Kebanyakan yang tahu adalah para elit di desa. Kami tanyakan pada elit di desa, “kapan Bapak dapat dana?”. Jawabnya Agustus atau September. Buat apa dana itu? Buat A, B, C. Siapa yang bekerja untuk program itu? Yang bekerja adalah orang-orang dari luar desa, para kontraktor-kontraktor dari luar. Kenapa pakai pihak luar/kontraktor? Empat bulan kita dapat dana, untuk bisa bekerja, ya kita minta kontraktor saja. Kita tahu bahwa apa yang dikatakan pak Menteri itu adalah tidak benar. Persoalannya yang berbahaya itu karena dulu uang tidak ada di masyarakat. Sekarang uang ada di masyarakat. Sangat berbahaya kalau kita tidak punya fasilitator.

Saya bersyukur bisa mengenal Wada san. Kalau saya tidak kenal, dalam kondisi seperti saya cerita, saya tidak tahu bagaimana desa nanti menuju ke kondisi kehancuran. Saya masih ingat saat ketemu Wada san pertama kali, saya menjadi fasilitator masyarakat. Saya bekerja dan memfasilitasi program-program dari lembaga-lembaga donor, baik UN, INGO, dan saya bersyukur mendapatkan kesempatan banyak belajar ke luar negeri sebelum bertemu Wada san. Kemudian saya dikirim ke Jepang, belajar dan ketemu Wada san.  Saya tak pernah lupa, walau itu tahun 2003.

Satu pertanyaan yang ditanyakan kepada saya oleh Wada san, dan satu pertanyaan itulah yang mengatakan saya sebenarnya belum tahu apa-apa tentang masyarakat, tentang desa. Pertanyaannya apa? Apa itu masyarakat? Saya bisa jawab, sesuai teori di buku-buku. Pertanyaan kedua, kenapa masyarakat bertahan? Saya masih bisa jawab, dengan teori. Apa itu budaya? Belum saya jawab, saya diserang, untuk apa anda ke desa? Saya ke desa karena masyarakat di desa perlu kita bantu. Kenapa perlu dibantu? Masyarakat di desa itu miskin. Apa itu miskin? Masyarakat kita tidak punya uang, pendapatannya tidak jelas. Kemudian anda pikir yang namanya miskin itu apa, puas itu apa? Lalu Wada san bilang sudah stop, pulang saja ke Indonesia. Sejak saat itu saya menyadari bahwa saya tidak tahu. Lalu Wada san bilang besok langsung ke desa saja. Sampai di sana, Wada san sudah ada, saya ditanya apa yang saya tahu tentang desa ini. Lalu dia bilang kamu pasti tidur di mobil. Kalau kau mau datang ke desa, malam itu kau search dulu ke Google, di perjalanan jangan tidur, harus amati.  Saya diajak buat kue di masyarakat. Lalu ditanya apa yang kau dapat dari pelajaran hari ini? Buat kue itu adalah cara untuk mendapatkan pertemanan dengan masyarakat disana.

Saya hanya mau sampaikan bahwa banyak orang ingin menjadi fasilitator. Banyak orang menyatakan dirinya fasilitator. Tapi tidak banyak orang menyadari bahwa saya tidak tahu apa itu masyarakat, apa itu desa. Saya beruntung saat kembali ke desa ada program yang namanya PKPM.

Saat mau pulang, Wada san bilang ke saya, kamu salah satu murid saya terbaik. Tugas saya di PKPM bersama Wada san sederhana, kalau Wada san datang, saya yang susun action plan untuk dia. Dan tiap kirim rencana kesana ditolak. Pendekatan partnership building itu kekuatan kita. Datanglah ke masyarakat tanpa bawa uang dan tanpa bawa program.

Memaknai meta-fasilitasi sebagai semangat pemberdayaan

Pada sesi ini para peserta diminta untuk memaknasi fasilitasi dan menarik kesimpulan dari peluncuran buku yang telah dilakukan. Setelah itu, pemaknaan tersebut dirangkum oleh Ferry Curtis dan di-compose menjadi sebuah lagu. Berikut adalah hasil dari proses tersebut:

“Aku sadar aku paham
Aku tidak tahu apa-apa
Harga diri sangatlah mahal
Bagi bangsa kita yang besar

Berhentilah meminta-minta
Karena bekerja lebih mulia
Jangan banyak bicara ayo kerja
Memahami problematika di sekitar kita

Mari bersama
Kita bergerak
Untuk berubah demi Indonesia”

Penutup

Acara ditutup oleh Ibu Susana Helena selaku Ketua Yayasan Masyarat Peduli (YMP).

Kesimpulan

Dari proses Peluncuran Buku“Menyingkap Realitas Lapangan Meta-Fasilitasi Bagi Pekerja Pembangunan Masyarakat” dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan yang direncanakan sesuai tujuan dari Kerangka Acuan Kegiatan yang disampaikan.

Peserta mengetahui isi Buku Meta-Fasilitasi secara umum melalui sharing dan kuliah meta-fasilitasi yang diberikan oleh penulis buku, Nobuaki Wada. Hal ini juga didukung oleh terjualnya Buku Meta-Fasilitasi sebanyak 51 buku dengan rincian 5 versi bahasa inggris, dan 46 buah versi Bahasa Indonesia.

Peserta memahami konsep dasar Meta-Fasilitasi berdasarkan percobaan fact question yang dibuat oleh Penulis. Hal ini didukung juga oleh terciptanya dialog tanya-jawab antara peserta dan penulis. Peserta mendapatkan sudut pandang ketiga mengenai buku meta-fasilitasi dari para testimoni yang menyampaikan pendapatnya mengenai buku tersebut.

Peserta antusias selama proses acara hingga sesi pemaknaan meta-fasilitasi sebagai semangat pemberdayaan. Hal ini didukung oleh partisipasi peserta peluncuran buku dalam menuangkan pikirannya pada kertas meta-plan.

Rekomendasi

Melihat hasil peluncuran buku Meta-Fasilitasi dan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, berikut adalah rekomendasi yang disampaikan;

  1. Memperluas pengenalan buku Meta-Fasilitasi kepada stakeholders lainnya di Kementerian, swasta, NGO, dll dan sektor-sektor terkait pengembangan masyarakat lainnya.
  2. Menjalin kerjasama antar stakeholders guna penyebaran dan pemasaran buku meta-fasilitasi.
  3. Menciptakan pelatihan mengenai Meta-Fasilitasi bagi para pekerja di bidang pengembangan masyarakat

Tertarik miliki buku itu? Sila kontak alamat berikut:

Kantor COMMIT, Jl. Komp. BBD No.14 Batua, Makassar samping SMA Negeri 5. email ke commit.f@gmail.com atau mardi_mks@yahoo.com dengan mengirimkan alamat lengkap dan bukti transfer (nomor rekening COMMIT akan dikirimkan segera setelah menghubungi nomor telepon berikut; 0813-559-52807). Oya, harga bukunya Rp. 125.000/exp, di luar ongkos kirim (via Pos, TIKI JNE, dll).

Atau Kantor YMP di Jl. Pejanggik No. 65 Kampung Mekar Sari, Kelurahan Majidi Lombok Timur, NTB Email: sekretariat@ympntb.org

***

Makassar, 11 April 2016

Admin COMMIT 

 

 

LEAVE A REPLY