Home Kegiatan Meniti Isu Perubahan Iklim

Meniti Isu Perubahan Iklim

149
0
SHARE
Saat warga berinisiatif
Ilustrasi
Ilustrasi

Kamaruddin Azis, Sekretaris Eksekutif Yayasan COMMIT yang juga anggota tim Survey “Kegiatan Masyarakat terkait Perubahan Iklim di Wakatobi”, kerjasama Pemkab Wakatobi dan  JICA-CDCSS mendapat undangan mengikuti pertemuan Oxfam; “Eastern Indonesia – Climate Adaptation Networks (EI-CAN)” tanggal 10 Juni, 2013. Berikut laporannya.

***

Indonesia pasang target penurunan emisi rumah kaca 26% di 2020. Di atas kertas, opsi mitigasi dan adaptasi didorong untuk mewujudkan ambisi itu. Sayangnya, anggaran negara dan bantuan asing tersedot ke upaya mitigasi, pada kontrol penebangan hutan atau mesin industri yang berkontribusi pada pemanasan bumi. Dukungan pada upaya adaptasi teramat kecil.

“Anggaran lebih banyak ke mitigasi, adaptasi tak maksimal. Butuh inisiatif daerah di Indonesia untuk mendorong kegiatan antisipatif dan adaptif. Meski tetap dibutuhkan riset yang lebih banyak terkait isu ini,” papar Agus Purnomo, staf ahli SBY pada isu perubahan iklim saat menjawab pertanyaan penulis di ruang meeting DNPI, Jakarta pada Mei, 2013.

Aloysius Suratin dari Oxfam Indonesia membenarkan bahwa Indonesia dilematis menghadapi eskalasi ‘conflict of interest’. Di satu sisi, hendak menekan produksi gas buangan industri negara maju tetapi dominasi mereka sungguh kuat. Mendikte negara berkembang untuk menekan laju gas rumah kaca tapi setengah hati di dalam negerinya. Negara ekonomi baru seperti India, Brazil, China justeru selalu tangguh di meja perundingan. Mereka selalu bawa data baru, ulet dalam meriset, mereka punya argumentasi sendiri dan kuat. Kita?

“Selain mengharapkan perubahan sikap negara maju ini, kita mesti berinovasi menyiasati perubahan iklim. Saat ini banyak gagasan mulia muncul dari dalam diri warga, ditransformasi ke komunitas dan mencoba memberi warna memperkuat daya tahan sosial,” kata Aloy saat menyemangati para peserta pertemuan “Eastern Indonesia, Climate Adaptation Networks, EI-CAN” di Kupang, tanggal 10 Juni 2013.

Meratapi meningkatnya pemanasan global, kekeringan, perubahan paras air laut bukanlah solusi. Harus menyiasatinya, beradaptasi selekas mungkin. Naiknya suhu bumi telah berimplikasi pada pergeseran musim tanam, cuaca sulit diprediksi, perubahan formasi ekosistem, sosial ekonomi warga kian rentan. Kekeringan dan kerentanan lahan menjadi ancaman.

Di tengah keraguan pada kemampuan warga bertahan di perubahan iklim itu, para peserta pertemuan yang hadir memperoleh inspirasi dari beberapa warga Nusa Tenggara. Mereka menawarkan hal baru menyikapi lahan yang rentan, lahan kering dan limbah terbuang. Targetnya sederhana, memanfaatkan potensi yang ada untuk memproduksi energi baru, energi sederhana namun berguna untuk melanjutkan kehidupan.

Siapa Inspirator Itu?

Dia Maria Loretha, wanita berambut sebahu ini datang dari kampung Wajotan, desa Pajiniang, Adonara. Maria membudidayakan pangan khas dari lahan kering bernama sorgum. Menurutnya, sorgum adalah makanan yang diyakini dapat mengganti fungsi beras, bukan hanya sebagai pelapis.

Dia ingin menepis anggapan bahwa warga NTT sangat bergantung pada beras, beras dari luar pulau maka digelorakanlah semangat menanam tanaman-tanaman menjanjikan secara jangka panjang itu. Di kebunnya yang seluas 2 hektar, dia memberi contoh dan mengajak warga menerapkan teknik bercocok tanam yang diyakininya sangat pas di daerah kering.

Maria Loretha menginspirasi kelompok- petani di Nusatenggara untuk mengoptimalisasi sumber daya lokal. Loretha memberi tanda bahwa daya tahan warga bisa lebih kuat dengan bermodalkan sumber daya lokal, hanya perlu keuletan dan kerja keras. Lebih jauh, dengan menanam sorgum, ekspansi membuka hutan untuk dijadikan lahan padi tentu akan bisa kurangi.

Kiprahnya dalam pengembangan sorgum berbuah manis, dia diberi Kartini Awards, sebuah penghargaan atas niat baiknya. Bukan hanya sorgum, tetapi ada jewawut, padi ladang, umbi-umbian.

“Jangan salah, di bawah lahan berkapur dan keras itu ada kandungan air. Yakin saja, apalagi akar sorgum sangat panjang,” kata wanita yang pernah tampil di acara Kick Andy ini seraya menunjuk hamparan lahan keras di Kota Kupang, saya duduk di sampingnya saat menuju kantor Geng IMUT,

Setelah mendengar cerita Mama Loretha, kini giliran Frits. Lelaki berjanggut bernama lengkap Noverius Nggili ini adalah dedengkot geng motor yang kembali ke jalan kemanusiaan nan mulia. Dia membantu menyebarluaskan hal baik ke warga desa melalui pembuatan pupuk bokashi, briket, biogas dan praktik cerdas memberdayakan warga.

Frits mengasah talenta muda setempat dalam memanfaatkan tanama-tanaman semak yang selama ini tak dimanfaatkan menjadi pupuk, menjadi sumber energi. Itu tercermin dari Donald, lelaki kacamata yang mengaku doyan balapan ini sangat fasih bercerita tentang pembuatan pupuk bokashi. Selain Donald, ada Ofry, mahasiswa peternakan, yang baru saja selesai kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Cendana, Kupang. Di sana ada Semy Tepe, Geo Tapaleo’, Ruben, Gunawan Junaedi, Temy Kaminukan, Eman.

“Apa yang kami lakukan ini tak lepas dari adanya agama baru yang dibawa teman-teman Yayasan PIKUL,” kata Frits yang memulai kegiatannya ini sejak 2010. Agama baru yang dimaksudkan itu adalah pendekatan dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Memulai inisiatif dari apa yang ada di sekitar kita.

“Saya alumni Peternakan, dari situlah teman-teman lain gabung. Kini, tidak kurang dari 200an anggota IMUT” kata sosok yang risih disebut PNS ini.IMUT adalah singkatan dari Inovasi Mobilisasi untuk Transformasi. Imut berdiri sejak 2005 namun berganti nama dan tidak lagi mengurus balap-balapan motor tetapi mengurusi ternak, mengurusi hal-hal baik.

“Hingga kini sudah mengunjungi 61 kelurahan/desa. 10 kabupaten-kota. Tanpa APBD, tanpa APBN. Ini karena solidaritas pada kebaikan bukan lagi pada tawuran, pada perkelahian geng motor,” ungkap lelaki yang dulu sering dimintai bantuan melepaskan motor anggotanya yang ditahan polisi.

Menurutnya inilah kerja-kerja yang tak terpikirkan, lalu ada perhatian, lalu ada penghargaan sosial.

Pelajaran dari Frits adalah bahwa upaya kemandirian energi bisa dimulai dari apa yang ada di sekitar kita. Pertanian organik, inovasi teknik sederhana, desalinasi air laut menjadi air minum, pestisida organik dan manajemen perternakan skala rumah tangga bisa menjadi pilihan memperkuat daya tahan warga.

“Kami memulainya dengan galau, galau bahwa NTT yang dulunya dikenal sebagai penghasil ternak kini semakin kesulitan, diperlukan manajemen baru,” katanya. Di pusat kegiatan IMUT terlihat alat-alat sederhana yang bisa mengantar energi dari kotoran sapi. Ada briket untuk kompor masak, ada gas dari hasil proses biogas kotoran sapi.

Selain Mama Loretha dan Geng Motor IMUT, pelajaran berkesan juga datang dari Yayasan PIKUL. Organisasi ini sedang menggoda warga Kupang yang minim lahan pertanian untuk praktik berkebun sederhana. Metodelogi aksi berkebun a la PIKUL ini adalah sebuah opsi menyiasati lahan kering dan sempit untuk menghasilkan sayuran berkualitas. Layak dicoba.

Butuh Kolaborasi

Di pertemuan yang dihadiri organisasi sosial, unsur Pemerintah, LSM dan komunitas itu teridentifikasi bahwa selain inisiatif di Kupang tersebut di atas, di daerah seperti Makassar, Lombok, Wakatobi, Mataram juga telah muncul inisiatif beradaptasi pada perubahan ekologi yang ekstrim. Yayasan COMMIT, salah satu LSM di Makassar melaporkan praktik warga di Kabupaten Wakatobi dalam menyiasati abrasi pantai dengan memasang tanggul, menanam pohon dan meninggikan rumah.

Warga berinisiatif mengubah alat tangkap karena ekstrimnya perairan saat mereka melaut. COMMIT telah memfasilitasi kerangka kerja pemantauan, evaluasi dan pelaporan perubahan iklim.

Komunitas berkebun Makassar yang diwakili oleh Syifa Fauzia menunjukkan inisiatif anak muda Makassar kembali ke lahan perkebunan kota. Komunitas Payo Payo, salah satu LSM lainnya kian giat mengadvokasi petani untuk bertahan di sumber daya yang dipunyai. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Komunitas Blogger Makassar mendorong peningkatan penyadaran blogger dan masyarakat untuk menyayangi lingkungan. Hal serupa juga berlangsung di Mataram, Lombok, Nusatenggara Barat.

Adalah niscaya untuk mengapresiasi inisiatif ragam komunitas ini. Apa yang dihasilkan di atas dapat berkontribusi pada pengurangan emisi secara tak langsung. Dengan biogas untuk memasak air, bukankah itu substitusi pada minyak, gas? Dengan briket arang, bukankah itu mengurangi eksploitasi hutan? Paparan tiga perwakilan provinsi dari Indonesia bagian Timur dengan informasi yang beragam, sangat positif dalam merancang bangun bentuk kolaborasi.

Ada peluang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan memperkuat jaring kerjasama. Saling mengisi dalam memperkuat daya tahan warga. Pengalaman di NTT di atas bisa menginspirasi warga di pelosok Sulawesi, bahkan Maluku dan Papua. Jika gagasan ini berkembang maka harapan Agus Purnomo dapat terjawab, bahwa inisiatif adaptasi warga telah menjadi tradisi menghadapi perubahan iklim di daerah-daerah. Selebihnya adalah memperkuat negosiasi dengan negara maju dan boros itu di meja perundingan.

“Harusnya inisiatif warga tersebut mendapat kompensasi dari pemerintah dan negara maju itu, semacam –credit compensation— karena warga telah berusaha menekan laju emisi,” kata Aloy taktis. Poin Aloy ada betulnya, apalagi mengamati upaya mitigasi oleh pemerintah yang masih jalan di tempat.

SHARE
Next articleMengapa COMMIT?

LEAVE A REPLY